September 7, 2008 pada 7:16 am (puisi)
Andika Dias Baradanu
Cemburu saja
mengerikan ketika rindu termangsa hantu malam
meneteskan keberingasan jarak yang berbau sesajian
jalan berkabut serasa membuta arah
mengiringi kemana entah
pegadang meminum secangkir kembara angan
pelengkap ronda malam para lelembut kesepian
aku ikut bagian terbawa jadi gentayangan
mencari kenangan di jatuhnya tetesan sukma
menerawang titisan rindu berdarah bernanah
membusuk dalam sekubur cemburu
Tinggalkan sebuah Komentar
September 6, 2008 pada 6:06 am (puisi)
Tags: puisi
Angkuh
Miftahuddin Munidi
buram warna bianglala di hari mendung bekas hujan
hanya sebuah sinar, cahaya menari lalu bagai lari
tunjuk yang mana warna bianglala?
merah jingga kuning belum padu
hijau biru nila ungu satu persatu sana-sini
sendiri-sendiri masing-masing
Bawahan Pasar, Oktober 2007
Tinggalkan sebuah Komentar
September 1, 2008 pada 3:26 pm (puisi)
Tags: puisi
Buat kau hudan
di telanjangnya zirah ideologi membaja
kau
sekedar wanita mungkin pernah meluka
laku satria bukan kebetulan, kau punya
nisbatkan kerudung ala kartini dulu
jika
nian kekar semangat tak kepalang
bunda kandung, kau lahir juga
benahi kelakar tuhan yang belum rampung
hudan…
berkarya berarti sampai akhir
kau juang bikin ramuan kata tuah
kamikami seret di lembah naik bukit
kaukami bikin orasi
maju serempak naik sajak paling oke.
Minggu, 31 Agustus 2008
Di book Cafe
Miftahuddin Munidi
Tinggalkan sebuah Komentar
Agustus 30, 2008 pada 11:45 am (puisi)
Tags: puisi, sastra
Dusta
bagai racun manis
air hujan menerpa lidah seorang
dalam sesaat itu
seorang kembali begitu cepat
pojok kosong membaui rasa lembab
hampir,
tanpa sisi kemanusiaan
Miftahuddin Munidi
November 2007
Tinggalkan sebuah Komentar