Puisi : Cemburu Saja

Andika Dias Baradanu

Cemburu saja

mengerikan ketika rindu termangsa hantu malam
meneteskan keberingasan jarak yang berbau sesajian
jalan berkabut serasa membuta arah
mengiringi kemana entah

pegadang meminum secangkir kembara angan
pelengkap ronda malam para lelembut kesepian
aku ikut bagian terbawa jadi gentayangan
mencari kenangan di jatuhnya tetesan sukma
menerawang titisan rindu berdarah bernanah
membusuk dalam sekubur cemburu

Puisi : Angkuh

Angkuh

Miftahuddin Munidi

buram warna bianglala di hari mendung bekas hujan
hanya sebuah sinar, cahaya menari lalu bagai lari

tunjuk yang mana warna bianglala?
merah jingga kuning belum padu
hijau biru nila ungu satu persatu sana-sini
sendiri-sendiri masing-masing

Bawahan Pasar, Oktober 2007

Buat kau hudan

Buat kau hudan

di telanjangnya zirah ideologi membaja

kau

sekedar wanita mungkin pernah meluka

laku satria bukan kebetulan, kau punya

nisbatkan kerudung ala kartini dulu

jika

nian kekar semangat tak kepalang

bunda kandung, kau lahir juga

benahi kelakar tuhan yang belum rampung

hudan…

berkarya berarti sampai akhir

kau juang bikin ramuan kata tuah

kamikami seret di lembah naik bukit

kaukami bikin orasi

maju serempak naik sajak paling oke.

Minggu, 31 Agustus 2008

Di book Cafe

Miftahuddin Munidi

Puisi: Dusta

Dusta

bagai racun manis

air hujan menerpa lidah seorang

dalam sesaat itu

seorang kembali begitu cepat

pojok kosong membaui rasa lembab

hampir,

tanpa sisi kemanusiaan

Miftahuddin Munidi

November 2007